RUMAH DI TEPI LAUT

Ikon

Hanya Hati Yang Bisa Menggerakkan Aku Untuk Menulis

Matematika Bumi VS Matematika Langit

Kerja keras belum tentu produktif, lihat tukang becak, sungguh ia
sudah kerja keras mengayuh becaknya hingga ngos-ngosan keringatan,
tetapi hasilnya ternyata tidak memadai. Kerja cerdas lebih produktif,
tidak terlalu keringatan tetapi hasilnya bisa jauh lebih banyak.
Tetapi banyak juga orang yang sudah kerja cerdas,sudah menghasilkan
begitu banyak, segala yang dibutuhkan sudah tersedia, ternyata
hidupnya tidak tenang, gelisah dan ujung-ujungnya lari ke narkoba atau
mendekam di penjara

Nah ada jenis kerja lain, yaitu kerja ikhlas. Dapat banyak
alhamdulillah, dapat sedikit alhamdulillah, belum dapat,sabar dan
berusaha lagi. Seberapapun yang diperoleh dari kerja keras,cerdas dan
keikhlasannya, ia bisa menerimanya dengan senang hati karena ia
menyadari bahwa wilayah manusia itu hanya berikhtiar, hanya berusaha,
sedangkan tentang hasil, disitu ada tangan Tuhan.

Ada orang sudah dapat banyak masih kurang dan hatinya gelisah, makan
tak enak tidur tak nyenyak, dimusuhi orang banyak. Sementara yang lain
dapatnya sedikit tetapi ia merasa cukup bahkan masih bisa memberi.
Dengan tenang ia menikmati hasil jerih payahnya,damai, harmoni dengan
lingkungan dan bahkan dihormati orang lain

Menurut hitungan matematis,orang yang punya uang sepuluh juta rupiah
kemudian diambil lima juta untuk membantu biaya sekolah anak-anak
yatim maka uangnya yang tersisa hanya tinggal lima juta rupiah. Jika
orang itu kemudian mempunyai pola perilaku tetap yaitu selalu
memberikan separoh hasil usahanya untuk membantu orang lain yang
kesulitan, maka menurut hitungan matematis ia pasti lambat kayanya
dibanding jika ia tidak suka memberi. Jika ia menjadi kaya 10 tahun
kemudian,maka logikanya jika tidak suka memberi,ia sudah bisa menjadi
orang kaya lima tahun lebih cepat.

Tetapi realitas kehidupan sering berbicara lain. Orang yang suka
memberi justeru lebih cepat kaya sementara orang yang kikir usahanya
sering tersendat-sendat. Sama halnya orang dagang yang selalu
mengambil keuntungan dengan margin tertinggi justru kalah bersaing
dengan pedagang yang mengambil keuntungan dengan margin rendah.
Kenapa? karena hidup itu bukan hanya matematis, ada matematika bumi
dan ada matematika langit. Orang yang keukeuh (bertahan; sunda) dengan
hitungan matematis dalam interaksi social tanpa disadari ia justeru
kehilangan peluang non teknis yang nilainya tak terukur secara
matematis,yaitu berkah.

Berkah adalah terdayagunanya nikmat secara optimal. Dari uang lima
juta rupiah misalnya semua terinvestasi tanpa ada sedikitpun
kebocoran,sehingga pertumbuhannya konstan. Sedangkan penghasilan yang
tidak berkah dapatnya sepertinya banyak, tetapi yang terdayaguna hanya
sedikit karena sebagian besar justeru bocor ke wilayah-wilayah yang
tak diperlukan

Matematika langit mengajarkan bahwa harta itu anugerah Tuhan. Tuhan
menyuruh manusia untuk bekerja keras dan Tuhan akan memberi menurut
kehendak Nya sesuai dengan rumus-rumus matematika langit. Zakat
misalnya arti bahasanya adalah suci dan tumbuh, artinya orang yang
disiplin membayar zakat hartanya menjadi suci (dari sorotan orang
miskin) dan hatinya pun menjadi suci (dari keserakahan matematis).
Filosofi zakat ialah bahwa di dalam harta si kaya ada hak orang lain
(miskin), yang meminta atau yang malu meminta. Jika zakat tak
dibayarkan,maka maknanya si kaya memakan hak orang miskin. Zakat
diartikan tumbuh artinya harta yang dizakati akan berkembang volume
dan maknanya secara sehat. Logiskah ini?

Tuhan mengajarkan melalui pohon. Pohon yang secara regular digunting
ranting dan daunnya ia akan tumbuh berkembang secara indah dan
berpola, karena dari ranting yang digunting akan tumbuh daun baru yang
segar. Jika pohon itu tak pernah dipotong maka pohon itu terus
berkembang tetapi tidak indah,tidak berpola dan bahkan bisa menjadi
pohon besar yang angker.
Orang kaya yang kikir seperti pohon yang angker akan ditakuti, kecuali
ama orang yang suka yang angker-angker; )

ket/*  di ambil dari milis angkatan fisika 02 unand by “Nelil Husnah”

Filed under: Motivasi, Oase, Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: