RUMAH DI TEPI LAUT

Ikon

Hanya Hati Yang Bisa Menggerakkan Aku Untuk Menulis

Tak Ada Biaya, Bayi Penderita Hidrosefalus di Ende Merana

Bayi hidrosefalus di Ende yang kini merana menanti bantuan pengobatan.

ENDE, KOMPAS.com – Seorang bayi perempuan penderita hidrosefalus berusia sekitar 1,5 bulan, di Kelurahan Lokoboko, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur saat ini dalam kondisi merana. Pasangan Stanis Penu (55) dan Yulita Turu Teo (34) selaku orang tua tak ada biaya untuk mel akukan ope rasi. Yulita tak dapat berbuat banyak untuk mengobati bayinya, dia hanya mampu memberinya ASI.

Sementara sesuai dengan anjuran dokter di rumah sakit umum daerah (RSUD) Ende, bayi tersebut mesti segera dioperasi di Jawa atau Bali. Pasalnya o pe rasi itu harus dilakukan oleh ahli bedah syaraf, sedangkan di Ende belum tersedia ahlinya. Namun untuk berobat ke luar NTT bagi Stanis amatlah berat. Sementara dia sehari-hari hanya bekerja serabutan dengan penghasilan tak tentu. Terkadang Stanis bekerja sebagai buruh tani m enggarap tanah orang, pemetik buah kelapa, atau pun kuli bangunan.Kendala lain, si bayi belum terdaftar sebagai peserta jaminan kesehatan daerah (jamkesda). Namun jamkesda pun hanya dapat digunakan di lingkup Ende, karena ditanggung oleh A nggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Ende.

“Saya tidak tahu harus berusaha bagaimana lagi. Sebenarnya saya berharap bisa menjadi peserta jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat), sebab bisa berobat di luar Ende, tapi katanya program jamkesmas sudah tidak menerima peserta baru lagi. Sedangkan jangkauan jamkesda terbatas hanya untuk wilayah Ende,” kata Stanis Penu, Senin (15/3/2010), di Ende.

Stanis berupaya mengurus jamkesda bagi anaknya di dinas kesehatan setempat, tapi oleh staf jaminan sarana kesehatan (jamsarkes) , Lies da Gomez dengan ketus mengatakan, untuk menjadi peserta jamkesda ada kuota yang telah ditetapkan oleh Pemkab Ende, sehingga tidak begitu saja dapat diterima peserta baru.

“Untuk mengurus juga harus ada surat keterangan miskin dari desa atau kelurahan, maupun puskesmas setempat,” kata Lies da Gomez .

Padahal Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Ende, Heribertus Gani secara terpisah menegaskan, bagi warga miskin yang belum diakomodir dalam jamkesda, begitu mereka mengurus tak ada alasan bagi dinas kesehatan menolak mereka.

“Pihak dinas harus mengeluarkan rekomendasi untuk surat jamkesda m ereka. Kalau pun kuota peserta dan anggaran sudah ditetapkan, alokasi anggaran untuk peserta baru dapat diatur kemudian dalam sidang perubahan anggaran,” ujar Heribertus.

Dokter spesialis anak RSUD Ende, Agustini Utari menyinggung, y ang dikhawatirkan apabila penanganan terlambat, penimbunan cairan di kepala bayi dapat menghambat pertumbuhan otak.

Bahkan jika sampai menimbulkan kerusakan otak dapat mengganggu fungsi tubuh yang lain, dan upaya perbaikan kemudian menjadi lebih sulit, bahkan biaya juga bertambah besar.

Laporan wartawan KOMPAS Samuel Oktora
Selasa, 16 Maret 2010 | 18:34 WIB

Filed under: Community Development, Disaster, Oase, Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: